NETRAL ITU MILIK SIAPA?

Posted on Updated on

polwan-jilbabMelansir dari sebuah situs berita online mengenai pencabutan larangan polwan berjilbab. Ketua sebuah komisi yang mengurusi perempuan mengungkapkan:

“Ya jangan sampai jilbab menimbulkan ketegangan baru,” sebutnya. Sebab, polisi diharapkan akan netral untuk menangani kasus. Jika polisi sudah netral yang harus dipikirkan adalah masyarakatnya yang memandang. Bayangkan jika ada konflik SARA seperti di Poso, dan yang turun ke lapangan adalah Polwan berjilbab. Bukan polwan berjilbabnya yang disalahkan, tapi bagaimana nantinya pikiran masyarakat yang minoritas melihat polwan berjilbab, sementara didekatnya ada konflik terkait SARA, dan jilbab merupakan simbol. Pihak kepolisian dapat berlaku netral, akan jadi susah kalau ada simbol tertentu yang diusung,”

Membaca pendapat ini, saya juga ingin memberikan pendapat atas pendapat ketua komisi ini, berikut adalah pendapat yang saya ingin sampaikan:

1. Jika yang diutamakan adalah kenetralan layanan masyarakat, sehingga seluruh layanan masyarakat tidak boleh menggunakan simbol-simbol agama tertentu, berarti yang harus netral tidak hanya polisi, tapi juga PNS, Pegawai BUMN, BUMD, bank, dan hampir seluruh sendi kehidupan, karena pada dasarnya tidak ada yang tidak melayani masyarakat, hingga pedagangpun akan melayani masyarakat untuk membeli barang. Jadi seluruh warga negara Indonesia tidak berjilbab donk untuk menjaga kenetralan? Aneh banget ya?.

2. Secara tidak langsung, diungkapkan bahwa jilbab merupakan simbol agama Islam, berarti yang tidak memakai jilbab merupakan simbol agama non Islam bukan? maka tidak berjilbabpun merupakan simbol agama? nah gimana donk ?

3. Ibu ketua komisi menyebutkan contoh bahwa jika ada konflik kemudian diturunkan polwan berjilbab, bagaimana pendapat penduduk non muslim yang minoritas?. Apakah jika larangan berjilbab bagi polwan dicabut maka serta merta polwan muslim akan berjilbab semua (walaupun itu yang diinginkan kami kaum muslim) ? tentu tidak akan sebegitu drastis perubahan yang terjadi, dan kalo ada konflik, dimana-mana juga yang diturunin tuh brimob yang laki-laki, tidak banyak polwan yang diterjunkan. Lagi pula ini adalah kondisi yang akan jarang terjadi dan memang belum terjadi. So mengapa harus berandai-andai dan mengabaikan kenyataan yang terjadi saat ini?

4. Contoh kasus yang mirip namun terbalik keadaannya sudah terjadi di banyak tempat di Indonesia, beberapa tempat di Indonesia seperti menado, NTT, papua, toraja, bali yang muslimnya minoritas sudah merasakan pelayanan yang tidak terjaga kenetralannya, karena polwan yang tidak berjilbab di daerah itu mayoritas tentunya nonmuslim, pernahkah pendapat kaum minoritas muslim ini ditanyakan oleh komisi nasional ini? bisa dipastikan tidak ada, bahkan mungkin tidak pernah terpikirkan oleh mereka.

Pemikiran saya akhirnya bertemu pada adanya “udang dibalik batu” atas pernyataan-pernyataan dari ketua komisi nasional ini, seperti adanya suatu misi tertentu yang terus disampaikan pada masyarakat Indonesia.

Semoga memberi manfaat bagi semua (HWB).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s