ANALIS KESEHATAN MENGEJAR ANGKA KREDIT DI PUSKESMAS

Posted on Updated on

Foto0710Bagi analis kesehatan seperti saya yang bertugas di Puskesmas yang tergolong kecil, jumlah kunjungan laboratorium menjadi salah satu kendala untuk mendapatkan angka kredit dalam rangka naik pangkat.

Angka kredit memang dapat dibantu dengan unsur penunjang seperti seminar dan sejenisnya, namun ini hanya diperbolehkan maksimal 20% dari angka kredit total, hal ini berarti sisanya harus didapatkan dari pelayanan laboratorium kesehatan sebagai unsur utama.

Jumlah kunjungan yang rendah ini akan menyebabkan kita memiliki waktu luang, sehingga atasan akan memberikan pekerjaan tambahan yang dapat menyita waktu kerja kita. Sayapun menemui rekan analis kesehatan di puskesmas lain yang merangkap tugas sebagai petugas inventaris, ada yang merangkap sebagai operator komputer, pengelola keuangan dan lainnya.

Dahulu mungkin hal seperti ini tidak menjadi masalah besar karena kenaikan pangkat masih reguler 4 tahunan, pun di awal pemberlakuan angka kredit sebagai standar kenaikan pangkat masih dapat diatasi karena perangkat penilai petugas fungsional kesehatan belum sempurna terbentuk. Namun setelah reformasi birokrasi saat ini, waktunya kita secara benar mengumpulkan angka kredit untuk kemudian naik pangkat setelah memenuhi standarnya.

Bagi analis kesehatan yang jumlah kunjungan laboratoriumnya diatas 10 orang perhari mungkin masih dapat bernafas lega, namun bagimana dengan nasib analis kesehatan di puskesmas yang seperti saya dengan jumlah kunjungan laboratoriumnya di bawah 10 orang perhari?

Kunjungan luar gedung, itulah satu satu kegiatan yang dapat membantu analis kesehatan untuk menambah angka kreditnya. Kata siapa kunjungan luar gedung itu hanya milik perawat, bidan, petugas gizi atau kesling?. Analis kesehatan pun dapat berperan serta, kemudian apa saja yang dapat dilakukan?

Setidaknya ada beberapa kegiatan luar gedung yang dapat dilakukan Analis kesehatan, antara lain:

(1)    Kunjungan Posyandu (Balita Dan Lansia)

Posyandu lansia mungkin yang mempunyai prospek pemeriksaan lab yang lebih banyak. Setidaknya ada 2 kegiatan pemeriksaan lab untuk lansia, yaitu (a) pemeriksaan lab untuk penjaringan dan (b) pemeriksaan lab untuk monitoring yang dilakukan pada lansia dengan pemeriksaan lab yang diluar nilai normal

Adapun jenis pemeriksaan lab yang dilakukan antara lain: pemeriksaan asam urat, glukosa darah, kolesterol, golongan darah, hemoglobin, dan pemeriksaan urine.

Seperti saya, setidaknya sekali kunjungan saya dapat melakukan pemeriksaan asam urat, glukosa darah, dan golongan darah kepada 10 sampai 20 orang lansia, saat ini yang saya lakukan adalah pemeriksaan asam urat, glukosa darah dan golongan darah.

(2)    Penjaringan Siswa Baru

Beberapa puskesmas melakukan kegiatan penjaringan kesehatan disekolah terhadap siswa baru. Analis kesehatan dapat ambil bagian dengan melakukan pemeriksaan golongan darah, mulai dari PAUD, TK, hingga SMA.

(3)    Kelas Ibu Dan Sejenisnya

Bagi puskesmas yang mempunyai kelas ibu, PSI, dan sejenisnya, hal ini dapat dimanfaatkan untuk menambah jumlah pemeriksaan laboratorium bagi ibu hamil.

Kesemuanya memang membutuhkan kerja keras dan manajemen waktu yang baik, penulis juga masih berjuang untuk mencapai apa yang ditulis, semoga ini dapat bermanfaat bagi semua. (HWB).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s