MEDAN PERANG ITU TELAH BERPINDAH

Posted on Updated on

perang otakTeringat ungkapan saudara bahwa ia enggan membaca buku yang dipinjamkan oleh istri saya dikarenakan terlalu banyaknya tulisan arab (Alqur’an dan Hadits). Sedikit terkejut rasanya saat itu, sempat terfikir apakah seperti ini keadaan kebanyakan kita?, sayapun mencoba bercermin, apakah sayapun punya perasaan “alergi” terhadap Alqur’an dan Hadits, seperti halnya saudara tersebut ?(semoga perasaan tersebut tidak menghinggapi benak saya dan semua muslim).

Kita semua patut khawatir akan hal-hal seperti itu, hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan dari Abu Said al-Khudri Radiyallahu ‘anhu : Rasulullah bersabda: “Kamu akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai mereka masuk ke dalam lubang biawak kamu tetap mengikuti mereka. …..” (HR. Bukhori dan Muslim).

Ya, sunahnya musuh Islam saat ini telah menjalar ke kehidupan kebanyakan kita, bagaimana musik telah banyak mengisi pendengaran kita dibanding tilawah qur’an. Busana yang kita kenakan telah menyamakan identitas muslim kita dengan non muslim, padahal Rosulullah telah bersabda “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud no. 4031 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 1/676).

Saudara muslim, ingatlah Firman Allah: “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik….” (QS. Al Maidah:82).

Maka, pada dasarnya kedamaian saat ini bukanlah kedamaian sejati, musuh-musuh Islam tak akan berhenti berperang untuk menumbangkan Islam, satu persatu upaya memperkuat mereka dan mendominasi dunia selalu mereka lakukan, lihatlah bagaimana sulitnya Palestina merdeka, bagaimana Filipina selatan pun sulit merdeka, ataupun Thailand selatan yang notabene-nya mayoritas muslim masih “terjajah”, namun coba liat Sudan selatan yang mayoritas non muslim dengan mudahnya mendapatkan “restu” PBB untuk merdeka.

Sebenarnya tadi adalah fakta yang ”seharusnya” dengan mudah  kita dapat baca. Namun ada perang lain yang tidak semua muslim menyadarinya, jika musuh Islam merasa kesulitan berperang secara langsung, maka mereka ”meminjam” tangan saudara muslim kita untuk berperang melawan muslim sendiri. Mereka masuk ke semua sendi kehidupan muslim, melalui pendidikan, kesehatan, hingga kebiasaan/tradisi.

Di bidang kesehatan misalnya, mereka telah menebar benih-benih sex bebas yang di kemas dalam kesehatan remaja, dengan mengkampayekan kebebasan remaja untuk mengambil pilihan hidupnya, termasuk untuk melakukan hubungan seksual. Merekapun mengkampayekan pelarangan sunat perempuan, dikarenakan akan ”menyakiti” perempuan, disebutkan juga bahwa sunat perempuan kemungkinan dapat menimbulkan efek-efek yang membahayakan kesehatan (padahal saya yang tenaga kesehatan, belum pernah membaca penelitian, berita, dan lainnya yang menampilkan kasus riil akibat buruk sunat perempuan), dan Alhamdulillah Kemenkes RI tidak gegabah untuk melarang sunat perempuan secara masif. Namun saya heran, ketika banyak berita tentang kasus efek samping imunisasi, tidak ada yang memwacanakan pelarangan imunisasi (walaupun saya bukan termasuk orang yang tidak setuju imunisasi).

Medan perang lain yang sebenarnya saya ingin ungkapkan adalah pendidikan. Ya, terutama pendidikan Islam di institusi pendidikan Islam. Lho kok bisa…? Ya, ternyata institusi pendidikan Islam menjadi pilihan musuh Islam untuk medan perang. Saya akan membahas secara berurut tentang hal ini.

Musuh-musuh Islam mengirimkan kader-kader mereka untuk mempelajari Islam, kemudian kembali ke negaranya untuk mendirikan jurusan baru di universitas-universitas mereka, mulai dari Islamic Studies, Studi Timur tengah, Islamologi, dan lainnya.

Setelah itu mulailah mereka mengundang pelajar-pelajar muslim (melalui bea siswa, dll) untuk beramai-ramai sekolah/kuliah di universitas mereka untuk mempelajari islam (dari sudut pandang mereka). Sungguh aneh bukan, jika seorang muslim belajar islam kepada non muslim?, analoginya bagaimana mungkin seseorang belajar komputer kepada orang yang hanya pernah melihat tapi tidak pernah memegang komputer? Bukahkah ini sesuai dengan hadits nabi bahwa umat muslim mengikuti sunah mereka walaupun ke lubang biawak.

Setelah selesai belajar Islam di barat, maka kembalilah pelajar-pelajar ini dengan title Doktor Studi Islam, kembali ke tempat mereka bekerja (kebanyakan institusi pendidikan Islam), dan mulailah mereka memberikan pemahaman tentang Islam dari perspektif barat kepada mahsiswanya.

Dan pertempuran baru itupun dimulai………………

Semoga bermanfaat bagi semua (HWB).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s